TAKDIR
TAKDIR
Pengertian Takdir
Takdir
adalah sebutan Ketentuan Allah SWT yang dapat dirubah / sebuah proses
Contohnya : “Kita Miskin menjadi Kaya, Malas menjadi Rajin, Sakit menjadi Sehat
dan sebagainya. Percaya kepada takdir atau qadha dan qadar merupakan rukun iman
yang ke- 6, atau terakhir. Beriman kepada takdir artinya
seseorang mempercayai dan menyakini
bahwa Allah telah menjadikan segala makhluk dengan kodrat dan irodat-Nya dan
segala hikmah-Nya.2
Dalam hadits telah dinyatakan dengan
jelas, bahwa kejadian manusia di dalam rahim ibunya berjalan menurut prosesnya.
Empatpuluh hari pertama dinamakan nuthfah (mani) yang berkumpul, empatpuluh
hari kedua dinamakan ‘Alaqah (segumpal darah), dan empatpuluh hari yang ketiga
disebut mudlghah (segumpal daging). Maka, setelah seratus dua puluh hari
ditiupkan nyawa (ruh) oleh Malaikat diperintahkan menuliskan empat macam
perkara, yaitu:
1.
Ilmunya (selain ilmu pengetahuan,
juga perbuatan-perbuatan yang bakal dikerjakan).
2. Berapa banyak
rezekinya.
3. Berapa lama hidupnya.
4. Nasibnya, apakah
ia bakal masuk
surga atau neraka.
Empat macam perkara
itu ditetapkan (ditakdirkan), dan inilah yang dimaksudkan
Takdir Illahi atau nasib seseorang.3
Macam-macam Takdir Allah
Takdir adalah hukum Allah. Hukum yang
ditetapkan berdasarkan pada ketentuan, daya, potensi, ukuran, dan batasan yang
ada pada sesuatu yang ditetapkan hukumnya.
Takdir juga dapat dibagi menjadi dua hal
yang saling berlawanan, yaitu tetap (mubram,
hatami, musayyar) dan berubah (ghairu
mubram atau mu’allaq,
ghairu
![]()
2Muhammad Ahmad, Tauhid Ilmu kalam, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), h. 136.
3 Zainuddin, Ilmu Tauhid Lengkap,
h.134.
hatami, dan mukhayyar). Takdir mubram yaitu takdir yang
terjadi pada diri manusia dan tidak dapat diusahakan. Contoh: Jenis kelamin,
Ciri-ciri fisik, dll. Sedangkan takdir mu’allaq yaitu takdir yang erat
kaitannya dengan ikhtiar manusia. Disebut juga dengan takdir yang tertulis di
Lauh Mahfudh yang masih mungkin berubah jika Allah menghendaki. Contoh: seorang
siswa MI bercita-cita ingin menjadi Pilot, maka untuk mencapai cita-citanya
tersebut ia belajar dan berdo’a
dengan tekun. Sehingga apa yang ia cita-cita akan menjadi kenyataan.
Takdir Yang Tertulis Di Lauh Mahfudh Hanya Bisa Berubah Lantaran Dua
Sebab, Yaitu:
a. Do’a
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Tidak ada yang bisa menolak takdir selain do’a, dan tidak
ada yang bisa memperpanjang umur kecuali berbuat kebaikan”.(HR. Tirmidzi)
Sehingga dengan berdo’a kepada Allah, Insya Allah takdir
bisa berubah. Misalnya, jika kita berbuat kebaikan, umur akan dipanjangkan.
b.
Berbuat kebaikan
Salah satu bentuk perbuatan baik ialah silaturahmi. Dengan
itu pun bisa merubah takdir.4 Berbuat kebaikan tidak hanya dengan
silaturahmi, tetapi ada banyak perbuatan baik yang dapat kita lakukan.
Contohnya: berbakti kepada kedua orang tua, menghargai dan menghormati orang
lain, menyantuni anak yatim, dll.
Konsep Takdir
Takdir adalah suatu yang sangat ghoib, sehingga
kita tak mampu mengetahui
takdir kita sedikitpun. Yang dapat kita lakukan
hanya berusaha, dan berusahapun
![]()
4 Zainuddin, Ilmu Tauhid Lengkap,
h.140.
telah Allah jadikan sebagai kewajiban. “Tugas kita hanyalah
senantiasa berusaha, biar hasil Allah yang menentukan”, itulah kalimat yang
sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga kita, yang menegaskan pentingnya
mengusahakan qadha untuk selanjutnya
menemui qadarnya.
Takdir itu memiliki
empat tingkatan yang semuanya wajib diimani,
yaitu :
a. Al-`Ilmu, bahwa
seseorang harus meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu baik secara
global maupun terperinci. Dia mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang
akan terjadi. Karena segala sesuatu diketahui oleh Allah, baik yang detail
maupun jelas atas setiap gerak-gerik makhluknya. Sebagaimana firman Allah :
وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَ.عْلَمُهَا إِلَا
هُوَ وَيَ.عْلَمُ مَا فِِ
الْبَِِّ وَالْبَحْرِ وَمَا
تَسْقُطُ مِن وَرَقَ„ة إِلَا
يَ.عْلَمُهَا
„س إِلَا فِِ كِتَا „ب مُّبِ „ي
„ب وَلَا يَبَِ
وَلَا حَبَ„ة فِِ ظُلُمَاتِ الَأرْضِ وَلَا رَطْ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua
yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia
mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang
gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam
kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan
tertulis dalam kitab yang nyata.” (QS. Al-an`am:59).
b. Al-Kitabah, Bahwa
Allah mencatat semua itu dalam lauhil mahfuz, sebagaimana firman-Nya :
أَلََْ تَ.عْلَمْ أَنَ الَلََّ يَ.عْلَمُ مَا فِِ
السَمَاء وَالَْأرْضِ إِنَ ذَلِكَ فِِ كِتَا „ب إِنَ ذَلِكَ عَلَى
الَلَِّ يَسِير
“Apakah kamu tidak
mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan
di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab. Sesungguhnya
yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj:70)
c. Al-Masyiah (kehendak), Kehendak Allah ini bersifat umum. Bahwa
tidak ada sesuatu pun di langit maupun
di bumi melainkan terjadi
dengan iradat/masyiah (kehendak
/keinginan) Allah SWT. Maka tidak ada dalam kekuasaan-Nya yang tidak diinginkan-Nya selamanya. Baik yang
berkaitan dengan apa yang
dilakukan oleh Zat Allah atau yang dilakukan oleh makhluq-Nya.
Sebagaimana dalam firman-Nya :
إِنَاََّ أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ
شَيْئاً أَنْ يَ.قُولَ لَهُ كُنْ فَ.يَكُونُ
“Sesungguhnya
keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:
"Jadilah!" maka terjadilah ia” (QS. Yasin:82)
d. Al-Khalqu, Bahwa
tidak sesuatu pun di langit dan di bumi melainkan Allah sebagai penciptanya, pemiliknya, pengaturnya dan menguasainya,
dalam firman-Nya dijelaskan :
إِ ´ناِّّ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِلِْقَِِّْ فَاعْبُدِ الَلََّ مُلُِْصاً لَهُ الدِِّينَ
“Sesunguhnya Kami
menurunkan kepadamu Kitab dengan kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan
memurnikan keta'atan kepada-Nya.” (QS. Az- Zumar:2).
B. Rangkuman
Empat macam perkara yang telah
ditetapkan (ditakdirkan) Allah kepada manusia
sejak di dalam kandungan, yaitu: Ilmunya (selain
ilmu pengetahuan, juga
perbuatan-perbuatan yang bakal dikerjakan), berapa banyak
rezekinya, berapa lama hidupnya, nasibnya: apakah ia bakal masuk surga atau
neraka. Perkara tersebut dinamakan Takdir Illahi atau nasib seseorang.
Macam-macam takdir dibagi menjadi dua,
yaitu: Takdir Mubram dan Takdir Mu’allaq. Takdir Mubram adalah takdir yang
terjadi pada diri manusia dan tidak dapat diusahakan. Sedangkan Takdir Mu’allaq
adalah takdir yang erat kaitannya dengan ikhtiar manusia atau dapat dirubah
sesuai dengan usaha manusia itu sendiri
dan sesuai dengan kehendak Allah SWT.
![]()
6 Hasbi As Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam, (Semarang: PT Pustaka Rizki Putera,
2001),h. 113.
7 Muhammad Chirzin, Konsep dan Hikmah Akidah
Islam. (Yogyakarta: Mitra Pustaka,1997),h. 120-121.
C.
Referensi
Ahmad, Muhammad. Tauhid Ilmu kalam. Bandung:
Pustaka Setia, 1998.
As Shiddieqy, Hasbi. Sejarah dan Pengantar
Ilmu Tauhid/Kalam, Semarang:
PT Pustaka Rizki Putera, 2001.
Chirzin,Muhammad. Konsep
dan Hikmah Akidah Islam. Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1997.
Zainuddin, Ilmu Tauhid Lengkap, Jakarta: PT Rineka
Cipta, 1996.
